Jun 06

Candi Muara Takus, Riau

Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Budha yang terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau. Candi ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. . Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatera yang merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau. Para pakar belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan, namun candi ini telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari Kerajaan Sriwijaya. Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berbeda dengan candi yang ada di Jawa, bahan pembuat Candi Muara Takus khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai. Bangunan utama di kompleks ini adalah stupa yang besar berbentuk menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning. Di dalam situs candi ini terdapat bangunan candi yang disebut dengan Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka. Selain bangunan tersebut di dalam kompleks ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Sementara di luar situs ini terdapat pula bangunan-bangunan bekas yang terbuat dari batu bata dan belum bisa dipastikan jenis bangunannya. Ciri lain yang menunjukkan bangunan suci ini adalah bentuk stupa. Stupa sendiri berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk setengan lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru. Stupa adalah cirri khas bangunan suci agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fisiknya dalam sejarahnya. Candi Muara Takus ini memiliki stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tapi masing-masing sebagai bangunan pelengkap. Stupa yang memiliki ornament sebuah roda dan kepala singa.  Arsitekturnya sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Patung singa sendiri secara filosofis merupakan unsure hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat atau aspek terang dan dapat mengalahkan aspek jahat. Dalam ajaran agama Budha motif hiasan singa dapat dihubungkan maknanya dengan sang Budha, hal ini terlihat dari julukan yang diberikan kepada sang Budha sebagai singa dari keluarga Sakya. Serta ajaran yang disampaikan oleh sang Budha juga diibaratkan sebagai suara yang terdengar keras di seluruh penjuru mata angin.
Jika anda ingin berlibur di situs candi ini anda tidak perlu khawatir, karena sekitar situs ini banyak terdapat restaurant, kios penjual makanan ringan, kios penjual souvenir juga ataupun beberapa penginapan atau hotel, contohnya seperti :

Referensi :

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Muara_Takus
  • http://blog.travelpod.com/travel-photo/venoth/54/1271641707/candi-muara-takus-riau-sumatra.jpg/tpod.html
  • http://www.pekanbaruriau.com/2008/07/candi-muara-takus-wisata-riau.html
Jun 03

Pantai Sendang Biru, Malang

Selain punya unggulan objek wisata Balai Kambang, Kota Malang juga mempunyai objek wisata yang tak kalah cantiknya yaitu Pantai Sendang Biru. Jernih air lautnya menjadi daya tarik pantai ini. Oleh kebanyakan orang, Pantai sendang Biru dikenal sebagai pintu masuk menuju Pulau Sempu. Nama Sendang Biru berasal dari bahasa Jawa, yaitu yang berarti sumber air yang berwarna biru. Pantai ini berada di Desa Sumber Agung, Kecamatan Sumbermanjing, Malang. Persis terletak di seberang Pulau Sempu. Selain digunakan sebagai objek wisata ataupun jembatan ke Pulau Sempu, pantai ini juga digunakan sebagai tempat pelelangan ikan di Kota Malang. Pemandangannya sangat indah, pasir putihnya dan air laut yang biru jernih menambah daya tarik di pantai ini. Belum lagi berjejeran perahu nelayan yang terparkir rapi di tepi pantai. Kapal itu pun tidak hanya digunakan sebagai para nelayan, tetapi ada juga yang disewakan bagi para wisatawan. Anda bisa menyewa kapal tersebut untuk berkeliling di sekitar pantai. Biaya yang dipatok tidak terlalu mahal, hanya Rp 100.000 untuk kapal motor dan Rp 50.000 untuk kapal yang didayung. Di tengah laut anda bisa melihat ke bawah. Di sana pemandangan bawah lautnya sangat jelas terlihat. ikan-ikan kecil yang berenang di sela-sela karang membuat pengalaman anda mengunjungi Pantai Sendang Biru tak terlupakan. Di kawasan ini juga masih ada-adat yang selalu dijalankan oleh masyarakat setempat. Mereka akan menyeberangi laut menuju Pulau Sempu untuk mengambil air tawar yang dinilai keramat. Jika anda ingin menyaksikan tradisi tersebut, datanglah ke Pantai Sendang Biru pada tanggal 7-8 bulan Syawal. Saat ini secara resmi pantai tersebut dikelola oleh perusahaan Negara milik Forestay. Maka dari itu terdapat beberapa fasilitas untuk menunjang pariwisata di tempat wisata ini, seperti tempat makan atau kios-kios penjual makanan ringan dan kios-kios penjual souvenir. Untuk mencapai pantai ini, anda bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum.
Setelah anda puas menikmati keindahan Pantai Sendang Biru, tidak ada salahnya jika sekalian mengunjungi Pulau Sempu, dari Pantai anda hanya bisa menggunakan perahu untuk mencapai Pulau Sempu tersebut. Di sana terdapat lebih dari 223 jenis tumbuhan, 144 lebih jenis burung spesies baru, hewan mamalia dan hewan langka lainnya. Nama Pulau Sempu sendiri sebenarnya berasal dari nama sejenis tanaman obat yang saat ini amat langka, yakni pohon sempu. Anehnya meskipun bernama demikian, tak satupun ada pohon sempu yang masih berdiri di areal hutan pantai pulai ini. Malah kebanyakan pohon jenis lain yang tumbuh subur disana, semisal Bendo dan pohon-pohon raksasa lainnya. Kawasan yang berstatus cagar alam tersebut memiliki hutan yang masih terjaga dengan baik.

Jika anda ingin berlibur beberapa hari di taman wisata ini, anda tidak perlu khawatir, karena sekitar daerah ini banyak terdapat penginapan atau hotel-hotel yang berbintang :

Referensi :

  • http://www.eastjava.com/tourism/malang/ina/sendang-biru.htm
  • http://malangraya.web.id/2009/07/12/mengeksplorasi-pesona-wisata-petualangan-alam-pulau-sempu/http://
  • infobatumalang.blogspot.com/2011/08/pulau-sempu-sempu-island.html
Jun 01

Puja Mandala – Kedamaian dalam Keragaman

Pesona Bali sebagai pulau dengan seribu pura sangat menarik perhatian wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Keunikan pulau dewata ini memiliki ciri khas tersendiri yang tak surut dimakan waktu. Selain keindahan panorama alam nya, penduduk pulau Bali juga sangat terkenal dengan keramahtamahan nya. Sehingga dengan penduduk yang cukup heterogen, tetap terjalin rasa persaudaraan dan perasaan saling menghargai yang cukup kental. Perpaduan keindahan alam dan persahabatan yang kental menyebabkan pulau Bali menjadi icon pariwisata Indonesia yang sudah dikenal dunia.

Semangat kebersamaan yang kental dalam masyarakat Bali melahirkan kompleks

Gereja Katolik Bunda Maria Bunda Segala Bangsa

peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua. Berawal dari keinginan umat Islam di Bali untuk mendirikan masjid di daerah Nusa Dua, inisiatif ini disambut dengan ide dari Menteri Pariwisata yang pada saat itu dijabat oleh Joop Ave untuk membangun tempat ibadah kelima agama dalam satu kompleks sebagi simbol kerukunan umat beragama di Bali.

Masjid Ibnu Batutah

Lokasi Puja Mandala mulai dibangun pada tahun 1994 di atas tanah hibah seluas 2 hektar dari PT. Bali Tourism Development Corporation (BTDC). PT. BTDC adalah pihak pengelola daerah Nusa Dua dimana telah berhasil membangun daerah Nusa Dua sebagai salah satu tempat tujuan utama wisata di Bali. Pada tahun 1997, daerah Puja Mandala secara resmi disahkan oleh Menteri Agama Tarmidzi Taher.

Dengan penyelesaian bangunan secara bertahap, berikut daftar nama tempat ibadah di Puja Mandala:

  • Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa (1997)
  • Gereja Kristen Prostestan Bukit Doa (1997)
  • Masjid Ibnu Batutah (1997)
  • Vihara Budhina Guna (2003)
  • Pura Jagat Natha (2005)

Biarpun tujuan awal dari Puja Mandala adalah sebagai fasilitas ibadah wisatawan yang menginap di daerah Nusa Dua, seiring dengan jalannya waktu, lokasi Puja Mandala sudah menjadi salah satu tempat kunjungan utama bagi wisatawan di Nusa Dua.

Lokasi Puja Mandala berjarak sekitar 12 km dari Bandara Ngurah Rai ke arah Nusa Dua. Juga berdekatan dengan lokasi patung Garuda Wisnu Kencana yang sangat fenomenal dan Pura Sad Khayangan Jagad Uluwatu.

Wihara Budhina Guna, Pura Jagat Natha, dan Gereja Kristen Bukit Doa

Puja Mandala juga sering disebut sebagai miniatur kerukunan umat beragama di Indonesia. Dengan relasi harmonis dan dinamis, semangat kebersamaan dalam Puja Mandala lahir dari relung jati diri masyarakat pendukung nya. Keberadaan tempat-tempat beribadah di Puja Mandala bukan hanya sebatas simbol saja, namun merupakan bentuk nyata dari toleransi hakiki dalam suasana informal, akrab dan terinternalisasi dalam keseharian hidup. Disini, perayaan Ekaristi umat Kristen seringkali diselingi suara adzan maghrib. Atau shalat Jum’at tetap digelar pada saat hari raya Nyepi, walau tanpa pengeras suara. Disini dapat disaksikan secara lansung cermin Bhinneka Tunggal Ika secara nyata.

Kalau berlibur ke daerah Nusa Dua, berikut beberapa daftar recommended hotel di daerah ini. Beberapa dari hotel-hotel berikut berlokasi cukup dengan dengan Puja Mandala.

Referensi

  • http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/09/puja-mandala-sebuah-miniatur-kerukunan/
  • http://www.kratonpedia.com/article-detail/2011/7/13/103/Puja.Mandala.Miniatur.Kedamaian.html
  • http://www.youtube.com/watch?v=rMiD69yg5yI