Bertamu Ke Rumah Cut Nyak Dien

Share Button

rumah cut nyak dienMeski hari pahlawan masih jauh dan hari kemerdekaan telah lewat tak ada salahnya bukan jika kita juga berjalan-jalan ke tempat yang penuh dengan sejarah. Tak hanya membantu kita untuk mengenal lebih mendalam mengenai sosok para pahlwan namun juga bisa membantu kita untuk lebih meningkatkan rasa nasionalisme kepada bangsa ini. Salah satu tempat yang bisa dikunjungi adalah Rumah Cut Nyak Dien yang bisa wisatawan datangi dalam melakukan wisata di Banda Aceh. Cukup banyak pahlawan yang lahir di tanah berjulukan serambi mekah tersebut. Bahkan perjuangan untuk melawan para kaum penjajah tersebut tidak hanya dilakukan oleh para kaum adam namun juga oleh para kaum hawa. Mereka ingin memangku senjata dan memimpin pasukan untuk melawan sikap kesewenang-wenangan Belanda. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Cut Nyak Dien, istri dari salah satu pahlawan nasional, Teuku Umar.

rumah cut nyak dienBangunan rumah yang berada di Jalan Cut Nyak Dhien, Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Dahulunya rumah ini menjadi tempat tinggal Cut Nyak Dien bersama sang suami, Teuku Umah. Rumah ini pun bukanlah rumah yang sesungguhnya, melainkan hanya sebuah replika yang dibangun pada tahun 1981 karena bangunan rumah yang asli telah dibakar oleh pihak Belanda. Rumah tersebut memang aslinya dibangunkan oleh Belanda untuk Teuku Umar. Teuku Umar sengaja menjalin hubungan baik dengan Belanda guna merebut kemerdekaan secara diam-diam. Bahkan di rumah itulah Teuku Umar bersama para pejuang lainnya sering melakukan rapat untuk melawan Belanda. Namun sayangnya hal tersebut diketahui Belanda sehingga kemudian dibakarlah rumah tersebut. Meski dibakar, Cut Nyak Dien berusaha keras untuk mempertahankan rumah tersebut. Sementara replika bangunan yang dibuat bertahun-tahun kemudian dimaksudkan untuk mengenang perjuangan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien sekaligus sebagai pusat data mengenai sepak terjang perjuangan mereka.

rumah cut nyak dienReplika yang selesai dibangun pada tahun 1982 tersebut tetap mempertahankan bentuk asli rumah Cut Nyak Dien yang bergaya khas rumah tradisional Aceh. Karenanya rumah ini pun juga dikenal dengan nama Rumah Aceh. Dengan didominasi cat hitam, rumah panggung tersebut memiliki sanggahan berjumlah 65 pilar dengan atap rumbia. Rumah berjenis panggung tersebut juga dilengkapi dengan tangga utama yang berjumlah ganjil dan berada di sebelah kanan rumah. Tangga ini juga menjadi akses untuk menuju seuramoe rambat dimana terdapat sebuah lampu besar nan antik. Kemudian terdapat dua anak tangga dimana terdapat dua pintu pada sisi kanan dan kiri. SI sisi kanan merupakan ruangan yang memajang sejumlah foto pada masa kependudukan Belanda di Aceh dan sejumlah tokoh penting yang berperan di sana. Namun sayangnya foto-foto tersebut hanyalah copy-annya saja. Karena foto yang asli berada di Belanda.

kamar cut nyak dienSelanjutnya di ruang tengah terdapat dua kamar tidur dengan tempat tidur khas Aceh. Kamar-kamar ini merupakan kamar dari dayang-dayang Cut Nyak Dien sementara kamar Cut Nyak Dien sendiri berada di sisi kiri seuramoe rambat. Sebagai salah seorang bangsawan pada masanya, kamar Cut Nyak Dien pun dilengkapi dengan asoe kama khas Aceh. Pada area dapur bukan saja terpajang set meja makan saja namun juga terdapat sejumlah senjata tradisional khas Aceh yang dulu pernah digunakan untuk melawan penjajah. Di luar dapur, sebuah titian sepanjang dua meter menjadi penghubung ke area sumur yang berada di luar. Sumur ini cukuup tinggi karena untuk menghindari racun yang diberikan musuh. Bahkan dahulunya sumur ini juga diberi penutup. Hal ini karena sumur tersebut memiliki peran penting sebagai sumber air di rumah tersebut. Hanya sumur itulah yang merupakan bangunan asli karena tidak ikut terbakar oleh Belanda.

sumurDi bagian lain, terdapat sejumlah kursi dan meja dengan jumlah yang cukup banyak yang menjadi pertanda bahwa di tempat tersebut sering kedatangan tamu. Rumah Srikandi Indonesia ini bukan hanya menjadi tempat untuk belajar sejarah namun juga menjadi tempat belajar mengenai bagaimana menghargai orang lain yang ditunjukan oleh Cut Nyak Dien dalam memberikan kamar yang sama untuk para dayang dan pembantunya. Jadi yuk bertandang ke rumah Srikandi Indonesia, siapa tahu kita bisa mendapatkan inspirasi untuk menjadi srikandi berikutnya 😉

Refrensi:

  • http://www.kompasiana.com/rintawulandarii/rumah-cut-nyak-dien-tanda-perkasa-sang-srikandi-indonesia_54f3e5ba7455137a2b6c8290
  • http://www.ajnn.net/2013/10/menelusuri-sejarah-aceh-lewat-rumah-cut-nyak-dhien/
Share Button

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *