Ritual Manyanggar di “Negeri Rawa” Danau Bangkau, Kalimantan Selatan

Danau Bangkau 1Adat menyanggar atau menebarkan sesaji ke danau adalah tradisi yang dilakukan masyarakat Danau Bangkau, KabĀ  Sungai Hulu Selatan, Kalimantan Selatan . Tradisi tersebut dilaksanakan guna bentuk terimakasih masyarakat terhadap alam atau danau yang telah menjadi sumber penghidupan mereka. Syukuran atau ritual ini diawali dengan pembuatan berbagai macam makanan sebagai sesaji terhadap panggaduh atau ruh yang diyakini memelihara Danau Bangkau yang luasnya 19,5 km persegiĀ  ini. Makanan tersebut berupa 41 macam kue, ayam hitam dipanggang, kambing putih, beras kuning, pisang bahkan sampai kemenyan sekalipun. Beragam sesaji tersebut sudah disediakan ibu-ibu sehari sebelum acara dan hanya mereka yang tidak dalam masa haid yang bisa membuat sesaji. Ungkap Kepala Desa Danau Bangkau. Jika sesaji tersebut adalah permintaan penggaduh rawa dengan tujuan supaya warga selalu dijaga keselamatannya dan dilimpahkan banyak ikan. Ketika sesaji telah siap, maka step selanjutnya adalah proses babarasih yaitu proses pembersihan danau. Para ibu-ibu diharuskan menggunakan kain batik dengan membawa seluruh sesaji dari rumah seseorang yang tertua di desa tersebut, lalu membawanya kedalam perahu kelotok atau yang biasanya dikenal dengan perahu motor .
Danau Bangkau 2

Dua tokoh adat di desa Danau Bangkau mengambil haluan untuk memimpin perjalanan menuju ke tengah rawa. Sepanjang perjalan dua tokoh adat ini memercikkan air kembang sebagai simbol babarasih.Di tempat pemberhentian pertama, si pemandu kemudian terjun ke air dan menyelam sedalam lima meter untuk meletakkan sesaji di dasar rawa dengan bentuk sesajinya satu buah kelapa yang sudah dibelah batoknya dan diisi telur dan gula merah. Kegiatan serupa juga dilakukan di perhentian kedua dan ketiga. Lalu di permukaan air dilarungkan daging kambing bakar, namun pelarungan hanya berlangsung sejenak karena daging kambing tersebut segera di angkat naik ke atas perahu. Upacara adat ini diakhiri dengan pembacaan doa keselamatan dan tolak bala yang dipimpin oleh dua tokoh adat tersebut.

Pada hari tersebut, warga tidak diperbolehkan untuk mencari ikan. Sebagai rasa syukur pula seluruh makanan yang menjadi sesaji tersebut kemudian dibagikan, dan warga pun antusias sehingga saling berebutan. Pemuka agama di desa tersebut juga mengungkapkan jika menyanggar merupakan tradisi peninggalan leluhur yang dilaksanakan secara turun menurun sebelum masuknya agama Islam di daerah tersebut dan terjadinya penyesuaian setelah agama Islam sudah banyak dianut warga setempat. Tradisi ini memang tergolong sangat langka dikarenakan warga melaksanakan tradisi ini tiap tiga hingga lima tahun sekali itupun tergantung adanya permintaan. Biasanya hal tersebut dikarenakan adanya salah watu warga yang kesurupan roh halus sekitar dengan menyampaikan agar diadakannya tradisi pelarungan. Dan kepercayaan ini masih dilaksanakan hingga sekarang. Jika anda ingin menyaksikan ritual tersebut anda tidak perlu khawatir karena banyak terdapat penginapan yang di sediakan warga setempat atau pun hotel seperti :

Referensi :

  • http://melayuonline.com/ind/article/read/255/adat-manyanggar-di-negeri-rawa-danau-bangkau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *