Seputar Letusan Gunung Bromo

Share Button

gambar-gunung-bromo-letusan-gunung-bromoGunung Bromo kembali ramai menjadi perbincangan. Bukan karena keindahan yang ditawarkan salah satu gunung berapi di Jawa Timur ini, melainkan karena gunung ini kembali erupsi.

Sejak bulan Oktober, aktivitas vulkanik Gunung Bromo memang terpantai terus meningkat. Namun kunjungan ke Bromo masih diperbolehkan oleh pihak Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru dengan aturan larangan untuk mendekati kawah Bromo dengan radius 3 km.

Aktivitas vulkanik ini pun terus meningkat hingga pada 4 Desember 2015, status Gunung Bromo meningkat menjadi siaga dan berada di level III. Pada saat itu pula Gunung Bromo mulai memuntahkan abu vulkaniknya.

Hal ini pun berdampak pada berhentinya aktivitas wisata di gunung setinggi 2.329 meter di atas permukaan laut tersebut. Hotel-hotel murah di Bromo pun mengalami penurunan tamu.

Bahkan sejumlah tour Bromo pun banyak yang akhirnya dibatalkan. Pendapatan warga sekritar Bromo pun otomastis berkurang drastis.

bandara abdurahman salehAkibat aktivitas vulkanik Gunung Bromo, sejumlah daerah di sekitar Gunung Bromo juga ikut terkena dampaknya.

Bahkan abu vulkanik Gunung Bromo telah sampai ke sejumlah daerah di Malang, Probolinggo dan Pasuruan, meski statusnya masih aman dan siaga darurat dengan hujan abu yang masih tipis.

Dampak lain dari abu vulkanik Gunung Bromo adalah kelumpuhan yang terjadi di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang. Bahkan sejak Jumat, 11/12/2015, lalu Bandara Abdulrachman Saleh ditutup hingga Jumat besok, 18.12/2015.

Sejumlah penerbangan dari Malang minggu lalu pada akhirnya terpaksa dialihkan ke Bandara Juanda, Surabaya. Namun untuk Bandara Notohadinegoro, Jember, masih belum terkena dampak dari abu vulkanik Gunung Bromo.

Sejumlah penerbangan Surabaya-Jember dan Jember-Sumenep yang dilakukan oleh Garuda Indonesia dan Susi Air masih berjalan normal. Bahkan animo para penumpang masih seperti hari biasa dan tidak ada penurunan.

suku tenggerMeski aktivitas gunung yang dianggap suci oleh Suku Tengger tersebut terus meningkat, nyatanya tak membuat warga Tengger ketakutan.

Seolah sudah terbiasa, tak ada warga yang menjadikan letusan Gunung Bromo sebagai momok.

Mereka masih beraktivitas seperti biasa dan tidak mengungsi dari desa mereka.

Hal ini tak terlepas dari kepercayaan mereka bahwa dengan melakukan ritual bisa mencegah “batuk” Gunung Bromo lebih dalam lagi. Mereka hanya menjadi lebih siaga dan lebih sering menggelar ritual.

Meski demikian, warga Tengger masih tetap mematuhi peraturan. Misalnya saja dalam penyelenggaran ritual mereka tetap memberikan informasi kepada pemerintah daerah setempat.

Tak hanya itu mereka pun mengikuti aturan untuk tidak mendatangi kawasan bromo dalam radius 2,5 km dari pusar kawah Bromo. Termasuk juga tidak mendatangi lautan pasir, tempat dimana mereka biasanya mencari rumput untuk kuda-kuda mereka.

Seribuan satuan tugas (satgas) dari TNI, Polri, Satpol PP, tenaga medis, personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah, personel Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, dan para relawan juga siaga di sejumlah desa untuk membantu warga sekitar Bromo jikalau nanti letusan Gunung Bromo terus meningkat.

Referensi:

  • http://news.detik.com/berita-jawa-timur/3097962/kisah-letusan-pertama-kali-gunung-bromo-hingga-kini-berstatus-siaga
  • http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/12/16/nzg4j7359-bandara-notohadinegoro-jember-tak-terdampak-erupsi-gunung-bromo
Share Button
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *