Feb 05

Gunung Kawi, Malang

Gunung Kawi merupakan gunung berapi di Kabupaten Malang, Jawa Timur yang lokasinya berdekatan dengan Gunung Butak. Letaknya di sebelah barat Kota Malang yang merupakan obyek wisata dan perlu dikunjungi karena keindahan dan keunikannya. Di sini anda akan menemukan suasana gunung yang sepi tetapi justru anda akan disuguhi sebuah pemandangan yang mirip di negeri tiongkok jaman dahulu. Di sepanjang jalan anda akan menemui bangunan-bangunan dengan arsitek khas Tiongkok dimana disini pula terdapat sebuah kuil/klenteng tempat untuk persembayangan atau untuk melakukan ritual khas Kong Hu Cu. Biasanya orang-orang Tionghoa mengunjungi wisata ini pada hari-hari tertentu untuk melakukan ritual keagamaan seperti memohon keselamatan. ci suak, giam cid an lain sebagainya. Namun tidak jarang pula yang hanya sekedar melepas lelah saja. Ada banyak hal lainnya yang berhunbungan dengan kepercayaan yang dapat anda temukan di Gunung Kawi ini seperi sebuah pohon yang konon dipercayai bila anda kejatuhan buahnya maka anda akan mendapatkan rejeki. Pada malam-malam tertentu akan ada banyak sekali orang yang duduk di bawah pohon ini. Selain pohon,juga terdapat makam Mbah Djoego, seorang pertapa pembantu Pangeran Diponegoro yang saat ini makamnya masih dijaga penduduk setempat.
Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak diperbolehkan memikirkan sesuatu yang tidak baik serta harus dalam keadaan suci karena disini terdapat symbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa. Selain pesarean sebagai focus utama pengunjung terdapat pula tempat lain yang dipercayai mempunyai kekuatan magic seperti:

  • Rumah Padepokan Eyang Sujo, di tempat ini terdapat beberapa peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo antara lain seperti bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.
  • Guci Kuno, yang merupakan barang peninggalan Eyang Jugo yang jaman dulu dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama janjam. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini jika minum atau cuci muka air ini maka anda akan menjadi awet muda.
  • Pohon Dewandaru, dipercayai mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut dewandaru karena termasuk pohon kesabaran.

Konon barang siapa yang melakukan ritual disini dengan penuh kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul semua permintaannya. Namun ini hanya mitos dan sebagian orang saja yang mempercayainya. Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini hanya dengan membawa bunga sesaji dan menyisipkan uang secara sukarela.Di sepanjang jalan menunju menuju Gunung Kawi terdapat banyak penginapan yang disediakan oleh warga setempat atau jika anda ingin di hotel, anda bisa lebih ke kota Malang lagi dan menginap di hotel berbintang seperti:

 

Referensi:

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Kawi
  • http://juragansejarah.blogspot.com/2012/06/misteri-gunung-kawi-jawa-timur.html

 

Jan 31

Masjid Al Akbar, Surabaya

Masjid Al Akbar Surabaya adalah masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Ciri khas masjid ini adalah kubahnya yang besar dengan didampingi empat kubah kecil yang berwarna biru serta memiliki satu menara yang tingginya 99meter. Dibangun pada tanggal 4 Agustus 1995 atas gagasan Wali Kota Surabaya saat itu H. Soenarto Soemoprawiro dengan ditandai peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden. Dan resmi dibuka pada tanggal 10 November 2000. Secara fisik luas bangunannya 22.300 meter persegi dengan rincian panjang 147meter dan lebar 128meter. Keunikan lainnya masjid ini adalah kubahnya yang hampir menyerupai setengah telur serta pintu masuk ke dalam ruangan masjid tinggi dan besar untuk mihrabnya adalah mihrab masjid terbesar di Indonesia. Lantai dirancang dengan ketinggian 3meter dari permukaan jalan sekitar lokasi. Rangka kubahnya dibuat dengan sistem frame yang menggunakan bahas besi dan baja dengan struktur segitiga yang disambung-sambung. Bobot kubah hampir mencapai 200 ton. Penutup struktur rangka atap dan kubahnya terdiri dari tiga lapisan yaitu Atap Kedap Air, sebagai atap terluar dan penutup plafond dan plat baja yang di warnai kemudian dipanaskan. Kemudian penutup rangka bawah berfungsi sebagai plafon yang ditutup dengan bahan kedap suara sehingga akustik pada bangunan ini desainnya sangat memadai.
Masjid ini memiliki 45 pintu dengan daun pintu yang ganda. Pintu terbuat dari kayu jati asli. Untuk memenuhi kenyamanan estetika keserasian keseluruhan bangunan masjid, maka marmer dari Lampung langsung dipilih sebagai pelapis dinding dan lantai masjid sehingga lantai terasa sangat sejuk. Kaligrafi nya juga berkualitas karena sangat bernuansa islami sedangkan perancangnya seorang ahli kaligrafi nasional yaitu Bapak Faiz dari Bangil. Mimbar dibuat dengan ketinggian 3meter untuk mendukung kemantaban khitbah agar tercipta suasana yang khas. Menara masjid sendiri berjumlah enam buah namun karena pertimbangan-pertimbangan yang bersifat teknis maupun biaya maka menara hanya dibuat satu. Menara dengan ketinggian 99meter ini puncaknya dilengkapi dengan view tower yang di dalamnya terdapat lift.
Aula dibangun dengan konsep kesatuan estetika lingkungan dan plaza sebagai lapangan ibadah. Elemen arsitekturnya pun di design sedemikian rupa untuk mencapai keindahan, kemewahan dan keagungan. Seperti hiasan kaca patri yang digunakan masjid ini dibuat dengan sistem triple glazed unit yaitu pelapisan kaca patri dengan kaca tempered yang menggunakan bahan dan mesin-mesin buatan Amerika yang bisa digunakan untuk meredam kebisingan. Letaknya yang sangan sering dikunjungi masyarakat menjadikan masjid ini banyak penjual atau rumah makan yang berada di sekitar masjid, sampai penginapan dari yang disewakan penduduk hingga hotel berbintang seperti:

Referensi:

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Al-Akbar
Jan 29

Masjid Cheng Hoo, Surabaya

Masjid Cheng Hoo Surabaya adalah sebuah masjid yang bernuansa Muslim Tionghoa. Berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya atau sekitar 1000 meter dari utara Gedung Balaikota. Masjid ini didirikan karena prakarsa dari para sesepuh, penasehat, pengurus PITI, pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia di Jawa Timur serta tokoh Tionghoa yang beragama muslim di Surabaya. Pembangunan masjid ini pertama kalinya dengan peletakkan batu pertama 15 Oktober 2001 yang bertepatan dengan hari Isra’ Mi’raj. Sedangkan pembangunannya sendiri baru dilaksanakan pada 10 Maret 2002 dan baru diresmikan pada 13 Oktober 2002.

Bangunan masjid ini menyerupai Kelenteng atau rumah ibadah umat Tri Dharma. Gedung ini terletak di areal kompleks geund serba guna PITI yang terletak di Jalan Gading, no 2 Surabaya. Didominasi warna hijau, kuning, dan merah. Ornamennya kental dengan nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat relief naga dan patung singa juga dari lilin dengan lafaz Alla dalah huruf Arab di puncak pagodanya. Di sisi kiri bangunan juga terdapat sebuah bedug sebagai pelengkap di masjid ini.
Nama masjid ini sendiri adalah sebuah bentuk penghormatan kepada Cheng Hoo, Laksamana asal Cina yang beragama islam. Dalam perjalanannya di Kawasan Asia, Cheng Hoo tidak hanya berdagang tetapi juga menyebarkan agama islam. Untuk mengenang perjuangan dan dakwah nya beliau, warga Tionghoa muslim ingin membangun sebuah masjid yang bergaya Tionghoa ini dan akhirnya bisa diresmikan pada tahun 2002. Masjid ini mampu menampung sekitar 200 lebih jamaah. Masjid Cheng Ho berdiri di atas tanah seluas 21×11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11×9 meter persegi. Memiliki delapan sisi di bagian atas bangunan utama. Maksudnya angka 11 untuk ukuran Ka’bah saat baru dibangun, angka 9 melambangkan Wali Songo dan angka 8 mewakili Pat Kwa atau Keberuntungan dalam bahasa Tionghoa.
Perpaduan gaya Tionghoa dan Arab nya yang menjadi cirri khas masjid ini. Arsitektur masjidnya diilhami Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak atau atap utama dan mahkota masjid. Di dalam kompleks masjid ini terdapat sekolah TK, kantin, lapangan olahraga, kantor serta ruangan kursus bahasa Mandarin. Sehingga pengunjung yang tinggal di sekitar masjid bisa merasakan manfaat yang lebih dari masjid ini selain sebagai tempat beribadah. Selain fasilitas tersebut banyak pula fasilitas lain seperti tempat penginapan ataupun hotel-hotel seperti:

Referensi:

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Cheng_Ho_Surabaya
Jan 18

Masjid Ampel, Surabaya

Masjid Ampel adalah masjid kuno yang letaknya di Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya. Luasnya 120×180 meter persegi dan didirikan pada tahun 1421 oleh Sunan Ampel dan di dekatnya pula terdapat kompleks pemakaman Sunan Ampel sendiri. Masjid yang saat ini juga menjadi salah satu objek wisata religi di Kota Surabaya, juga dikelilingi bangunan berasitektur Tiongkok dan Arab. Di samping kiri halaman masjid terdapat sumur yang diyakini merupakan sumur yang bertuah dan biasanya digunakan oleh mereka yang meyakininya untuk penguat sumpah atau janji. Masjid ini merupakan masjid tertua ke tiga di Indonesia yang dahulunya tempat ini menjadi tempat berkumpulnya para ulama untuk membahas penyebaran Islam di tanah Jawa.
Di kompleks Masjid Ampel ini juga terdapat makam Mbah Sonhaji atau Mbah Bolong dan juga Mbah Soleh atau pembatu Sunan Ampel yang dahulunya bertugas membersihkan Masjid Sunan Ampel. Selain itu di kompleks ini juga terdapat makam seorang Pahlawan Nasional, KH Mas Mansyur yang kondisi makamnya sangat bersahaja setara dengan makam-makaam keluarganya yang hanya ditandai dengan sebuah batu nisan di atas tanah yang datar. Kompleks ini juga dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel sendiri bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter dan melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel saja yang dikelilingi pasir putih. Di sekeliling masjid terdapat lima gapura yang merupakan Rukun Islam. Pintu gerbang yang pertama bernama Gapuro Munggah. Setelah melewati Gapuro Munggah anda akan melewati Gapuro Poso yang terletak di sebelah selatan masjid. Lalu anda akan memasuki halaman masjid yang tampak bangunan yang megah dengan menara yang menjulang tinggi. Gapuro berikutnya adalah Gapuro Ngamal, disini orang-oraang akan bersodaqoh. Selanjutnya Gapuro Madep yang letaknya persis di sebelah barat bangunan induk masjid. Dan gapuro yang kelima adalah Gapuro Paneksen yang merupakan pintu gerbang masuk ke makam.
Keistimewaannya disini adalah karena bangunannya yang sudah tua namun masih terpelihara dengan baik. Struktur bangunan dengan tiang-tiang penyangga yang berukuran besar dan tinggi terbuat dari kayu serta arsitektur langit-langitny yang kokoh sehingga menjadikan masjid ini sebagai wisata dan ziarah yang tidak pernah sepi oleh pengunjung apalagi saat Bulan Ramadhan. Di sini juga terdapat sumur bersejarah yang sekarang sudah ditutup dengan besi. Sebagian meyakini air dari sumur ini memiliki kelebihan seperti air zam-zam dari Mekkah. Banyak pengunjung yang minum dan kemudian membawanya pulang. Untuk masuknya pun tidak dikenakan biaya apapun. Tersedia parkir yang luas, penjual makanan atau minuman sampai penjual souvenir yang dijajakan oleh para pedagang di sekitar masjid. Anda juga tidak perlu khawatir jika ingin mencari hotel seperti:

Referensi:

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Ampel
  • http://bujangmasjid.blogspot.com/2010/08/masjid-sunan-ampel-surabaya.html
Jan 13

Pura Besakih, Bali

Pulau Dewata atau Bali sangat dikenal dengan Pulau Seribu Pura karena terdapat hampir lebih dari 11.000 bangunan pura dan kononnya jumlah puranya melebihi rumah julah penduduk. Salah satu pura terbesar disini adalah Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung atau gunung tertinggi di Bali yang tepatnya di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali. Lokasi  pura ini dipilih karena lokasi ini dianggap suci. Dalam bahasa Jawa Kuno, besakih mempunyai  arti ‘’Selamat’’ selain itu nama Besakih sendiri dikaitkan dengan Naga Basuki yaitu sosok naga yang menjadi bagian dari keyakinan masyarakat di lereng gunung sendiri. Oleh karena itu jika anda kesini, anda diharuskan menggunakan sarung khas Bali yang sudah disediakan.
Pura Besakih adalah kompleks tempat peribadahan umat Hindu yang terdiri dari 22 bangunan pura. Menurut perkiraan para ahli proses pembuatan pura ini memakan waktu seribu tahun hingga mencapai bentuknya seperti sekarang. Di sekitar kompleks banyak terdapat menhir, tahta batu, dll. Pura ini dibangun dengan konsep Tri Hita Kirana yaitu konsep keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhan. Penataan bangunannya pun disesuaikan dengan arah mata angin agar struktur bangunannya dapat mewakili alam. Tiap arah mata anginnya disebut mandala. Di kompleks Pura Besakih ini sering diadakan berbagai macam ritual agama Hindu dan akan mencapai puncaknya pada perayaan tiap seratus tahunnya Pura Besakih sendiri. Selain anda bisa menikmati peninggalan sejarah atau arsitektur lainnya, disini anda juga bisa dengan mendaki Gunung Agung.
Banyak makna filosofis yang terkandung di dalam Pira Besakih ini yang mengandung unsur-unsur kebudayaan seperti:

  • Sistem pengetahuan
  • Peralatan hidup dan teknologi
  • Organisasi sosial kemasyarakatan
  • Mata pencaharian hidup
  • Sistem bahasa
  • Religi dan upacara
  • Kesenian

Ketujuh unsur tersebut merupakan kebudayaan yang harus diwujudkan dalam bentuk budaya ide, aktifitas, dan wujud budaya material. Untuk menuju lokasi wisata ini, anda dapat memulai perjalanan dari  Kota Denpasar dengan jarak kurang lebih 25km ke arah utara. Atau dengan alternative lain dari Kota Semarapura . Banyak fasilitas yang disediakan disini seperti adanya lahan parkir yang sangat luas yang bisa menampung berbagai macam kendaraan, kios-kios yang menjual kerajinan atau cendera mata, berbagai macam warung makan. Apabila anda memerlukan penginapan atau losme, anda tidak perlu khawatir karena disekitar lokasi ini banyak disediakan, sampai hotel-hotel berbintang seperti:

Referensi:

  • http://id.wikipedia.org/wiki/Pura_Besakih
  • http://www.wisatamelayu.com/id/object.php?a=N2dIL3c%3D=&nav=cat
Jan 10

Goa Gajah, Bali

Terdapat sebuah lokasi wisata yang letaknya di Desa Bedulu, Kec Blahbatu, Kab Gianyar atau sekitar 27km dari Kota Denpasar, Bali. Tempat wisata ini adalah sebuah Goa yang bernama Goa Gajah yang berasal dari kata Lwa Gajah sebuah kata yang disusun oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 M. Goa ini dibangun pada abad ke-11 Masehi pada saat Raja Sri Astasura Ratna Bumi Banten berkuasa. Goa ini juga dijadikan tempat pertapaan dengan dibuktikannya ceruk-ceruk di dalam goa. Selain itu di sekitar goa juga terdapat kolam petirtaan dengan tujuh patung widadari yang sedang memegang air suci. Disekitar goa terdapat pura yang memiliki banyak peninggalan purbakala karena itu banyak dikunjungi wisatawan asing maupun domestik. Ada juga bangunan suci Hindhu yang berupa pelinggih-pelinggih. Tepat di ceruk bagian timur goa terdapat tiga Lingga Besar yang berjejer di atas satu laoik sedangkan di bagian baratnya terdapat arca Ganesha di goa berbentuk T. Dan di bagian teben terdapat arca ganesha yaitu Putra Siwa.
Di depan Goa Gajah terdapat patung pancuran did alam sebuah kolam permandian sacral yang seiring zama sudah tertimbun tanah. Air yang mengalir di kolam ini disebut dengan symbol Lingga atau symbol kesuburan. Bagian bawah lingga berbentuk segi empat symbol Brahma Bhaga dan di atasnya berbentuk segi delapan Wisnu Bhaga. Di atas segi delapan berbentuk bulat panjang dan inilah puncaknya Siwa Bhaga.
Ketika akan masuk kawasan wisata ini, anda harus terlebih dahulu memakai selendang yang disediakan di loket sebelum masuk dan kemudian melewati jlan setapak yang menurun dan berundak-undak mendekati lokasi wisata. Goa Gajah sendiri sudah menampakkan keindahannya dari ketinggian karena posisinya yang di bawah. Setelah hampir mendekati di bibir goa maka pengunjung bisa langsung menikmati keindahan pahatan dari mulut goa dengan gaya khas Bali yang melambangkan ujannya yang lebat dan makhluk hidup penghuninya. Goa ini dikelilingi area persawahan dengan keindahan ngarai Sungai Petanu oleh karena itu suasananya masih hijau dan asri.
Di luar goa sebelah barat terdapat patung Buddis yaitu Dewi Hariti. Patung ini dilukiskan sebagai seorang wanita yang memangku seorang anak. Dan di sebelah selatan Goa Gajah sendiri terdapat Patung dalam sikap Dhyani Budda Amitaba. Banyak fasilitas yang disediakan di wisata ini. Anda juga tidak perlu khawatir karena banyak hotel yang terdapat di sekitar wisata ini seperti:

Referensi:

  • http://www.pesonaindonesia.com/sejarahbudaya/pura/bali/33-pura/132-puragoagajahbali.html
  • http://bali.panduanwisata.com/pura-hindu-bali/pura-goa-gajah-tahukah-anda/
Jan 09

Pura Goa Lawah, Bali

Pura Goa Lawah salah satu objek wisata di Bali yang merupakan perpaduan antara gunung dan laut yang menambah keindahan di tempat ini. Goa ini terletak di sekitar 49km dari Kota Denpasar, Kecamatan Dawan, Klungkung atau sekitar 10km di sebelah timur Kota Semarapura. Perkiraan didirikan pada abad ke 11 oleh Mpu Kuturan. Puran yang dihuni oleh ribuan kelelawar ini termasuk Kahyangan Jagad atau Sad Kahyangan ini banyak dikungjungi oleh para wisatawan asing ataupun domestik.  Pengemong Pura Goa Lawah ini ada Kramadesa Adat Pesinggahan. Pada bulan-bulan dan hari-hari baik umat Hindhu banyak berdatangan kesini. Disini mereka melakukan upacara Nyegara Gunung karena lokasinya yang berada di tepi pantai dan di pegunungan. Hanya beberapa meter saja di sebelah selatan Pura ini terdapat pantai sedangkan gunung itu sendiri diwakili oleh perbukitan dimana pura dan goa ini berada. Mitosnya goa ini bisa tembus ke Gunung dan diperkirakan merupakan bekas aliran sungai bawah tanah.
Upacara Nyegara Gunung merupakan suatu upacara kelanjutan dari upacara Pitra Yadnya dalam ini tingkatan Nyeka, Makumur sampai Maligia Punggel. Selain acara Nyegara Gunung sendiri diselenggarakan karena kaitannya dengan upacara Dewa Yadnya. Berkaitan dengan penyelenggaraan pemeliharaan pura secara niskala atau rohaniah, di pura ini juga diselenggarakan upacara Piodalan atau Pujalawi setiap 210 hari sekali. Sementara dalam pemeliharaannya secara fisik serta pengembangannya, pura ini hendak mengikuti tata pemeliharaan dan pengembangan sebuah Pura Kahyangan. Orientasi persembahyangan di Pura Goa Lawah ini harus kea rah utara dan di atas perbukitan juga terdapat sebuah Pura Yakni atau Pura Puncak Sari. Areal pura ini dibagi menjadi Tri Mandala atau Jeroan sebagai utama mandala dimana Goa ini berada dengan beberapa Pelinggih utama. Jaba Tengah sebagai madya amndala yang diisi dengan beberapa pelinggih dan Jaba Sisi adalah pantai yang dipisahkan dengan jalan Semarapura.
Memang pura ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan karena selain sebagi tempat wisata di goa ini juga digunakan sebagai tempat persembahyangan. Disini banyak memiliki fasilitas yang cukup memadai seperti Parkir, Wantilan, Unior, Toilet, Semua fasilitas ini selalu ditata rapi dan selalu diusahakan dalam keadaan bersih. Selain itu banyak juga terdapat kios-kios penjual souvenir ataupun rumah makan. Anda juga tidak perlu susah mencari penginapan disini karena banyak hotel di sekitar seperti:

Referensi:

  • http://www.klungkungkab.go.id/main.php?go=goalawah